Kesehatan

RS Harapan Bunda Perkuat Kompetensi Tenaga Kesehatan

×

RS Harapan Bunda Perkuat Kompetensi Tenaga Kesehatan

Sebarkan artikel ini

AKSARA MEDIA ACEH I Banda Aceh – RS Harapan Bunda Banda Aceh terus memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan Manajemen Nyeri yang diikuti perawat, bidan, dan dokter jaga di lingkungan rumah sakit, Jumat (25/9/2026).

Pelatihan tersebut menghadirkan dr. Dewi Yuliana Fithri, M.Ked (An)-TI, Subsp. T.I (K) sebagai pemateri. Kegiatan difokuskan pada peningkatan pemahaman dan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan pengkajian, penanganan, serta evaluasi nyeri secara sistematis sesuai kondisi klinis pasien.

Manajemen nyeri menjadi bagian penting dalam pelayanan kesehatan karena nyeri merupakan pengalaman subjektif dan multidimensional yang dapat dipengaruhi berbagai faktor, baik biologis, psikologis maupun sosial.

Karena itu, penanganan nyeri tidak sebatas pemberian obat penghilang rasa sakit. Tenaga kesehatan perlu melakukan pengkajian secara tepat, mengidentifikasi penyebab dan karakteristik nyeri, menilai intensitas, menentukan intervensi yang sesuai, kemudian mengevaluasi respons pasien secara berkesinambungan.

Melalui pelatihan tersebut, tenaga kesehatan RS Harapan Bunda diharapkan semakin mampu mengenali nyeri sejak dini serta memberikan intervensi yang tepat dan aman sesuai kondisi masing-masing pasien.

Pengkajian Jadi Dasar Penanganan

Dalam pelatihan, ditekankan bahwa pengkajian nyeri merupakan dasar dalam menentukan langkah penanganan. Intensitas nyeri dinilai menggunakan instrumen yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan pasien.

Prinsip yang menjadi perhatian dalam manajemen nyeri meliputi Assess, Intervene, Reassess, dan Document. Artinya, nyeri harus dikaji, diberikan intervensi, dinilai kembali hasilnya, kemudian didokumentasikan secara konsisten.

Keberhasilan manajemen nyeri tidak hanya dilihat dari penurunan skor nyeri. Lebih dari itu, tenaga kesehatan juga perlu memperhatikan peningkatan fungsi, kenyamanan, kemampuan beraktivitas, kualitas tidur, serta tercapainya tujuan perawatan yang diharapkan pasien.

Perkuat Kolaborasi Antarprofesi

Manajemen nyeri yang efektif membutuhkan kolaborasi antarprofesi. Perawat, bidan, dokter jaga, dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP), serta tenaga kesehatan terkait memiliki peran dalam memastikan keluhan nyeri pasien mendapatkan perhatian sejak pengkajian awal hingga evaluasi lanjutan.

Penggunaan analgesik juga harus dilakukan secara rasional dan individual dengan mempertimbangkan kondisi klinis, usia, penyakit penyerta, fungsi organ, risiko efek samping, serta respons pasien terhadap terapi.

Selain pendekatan farmakologis, strategi nonfarmakologis seperti komunikasi terapeutik, teknik relaksasi, reposisi, distraksi, pengaturan lingkungan, dan intervensi lain yang sesuai kondisi pasien juga menjadi bagian dari pendekatan multimodal dalam pengelolaan nyeri.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan manfaat terapi sekaligus meminimalkan risiko yang tidak diinginkan.

Komitmen Tingkatkan Mutu Pelayanan

Melalui pelatihan ini, RS Harapan Bunda Banda Aceh kembali menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, mutu pelayanan, dan keselamatan pasien secara berkelanjutan.

Tujuan manajemen nyeri bukan semata-mata menurunkan tingkat rasa sakit, tetapi memastikan setiap pasien memperoleh pelayanan yang responsif, tepat, aman, terukur, dan berkesinambungan.

“Pasien bebas nyeri bukan hanya tentang mengurangi rasa sakit, tetapi tentang menghadirkan pelayanan yang membuat pasien merasa aman, nyaman, dihargai, dan mendapatkan asuhan terbaik.”

Dengan peningkatan kompetensi tenaga kesehatan secara berkelanjutan, RS Harapan Bunda Banda Aceh terus mendorong terciptanya pelayanan kesehatan yang bermutu, berorientasi pada pasien, serta mengutamakan keselamatan.

RS Harapan Bunda Banda Aceh
“Kepuasan Anda Kebanggaan Kami”