AKSARA MEDIA ACEH I Banda Aceh – Dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Tsunami Sedunia (World Tsunami Awareness Day), seluruh satuan pendidikan jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Banda Aceh secara serentak melaksanakan simulasi kesiapsiagaan bencana gempa bumi dan tsunami pada Kamis (5/11/2026).
Kegiatan yang dikoordinasikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh ini merupakan langkah nyata pemerintah daerah dalam meningkatkan pengetahuan, kesiapsiagaan, serta keterampilan warga satuan pendidikan dalam menghadapi ancaman bencana, khususnya gempa bumi dan tsunami.
Sebagai daerah yang memiliki pengalaman sejarah bencana tsunami dahsyat pada 26 Desember 2004, Banda Aceh memiliki tanggung jawab besar untuk terus membangun kesadaran dan budaya tangguh bencana sejak dini. Penanaman pengetahuan kebencanaan di lingkungan pendidikan menjadi salah satu upaya penting dalam mempersiapkan generasi yang tanggap, sigap, dan mampu menyelamatkan diri ketika menghadapi situasi darurat.

Pelaksanaan simulasi ini juga memiliki keistimewaan karena tidak hanya menjadi kegiatan seremonial dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Tsunami Sedunia. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh telah menetapkan kegiatan drill gempa bumi dan tsunami setiap tanggal 5 November sebagai agenda rutin yang tercantum dalam Kalender Pendidikan Kota Banda Aceh.
Melalui kebijakan tersebut, seluruh satuan pendidikan di bawah koordinasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan diwajibkan melaksanakan simulasi kesiapsiagaan bencana secara serentak setiap tahunnya. Kebijakan ini menjadi bentuk komitmen pemerintah daerah dalam membangun budaya sadar bencana secara berkelanjutan di lingkungan pendidikan.
Dalam pelaksanaannya, seluruh warga satuan pendidikan, mulai dari kepala sekolah, kepala satuan PAUD, guru, tenaga kependidikan hingga peserta didik, terlibat aktif sesuai dengan prosedur dan tahapan simulasi yang telah disiapkan. Peserta didik dilatih mengenali situasi darurat serta mempraktikkan langkah-langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi, seperti melindungi kepala, berlindung di tempat yang aman, tetap tenang, dan tidak panik.

Setelah guncangan gempa dinyatakan berhenti, seluruh warga sekolah melakukan evakuasi secara tertib melalui jalur yang telah ditentukan menuju titik kumpul. Simulasi juga mencakup pemahaman mengenai prosedur evakuasi menuju tempat yang lebih tinggi atau lokasi aman apabila terdapat peringatan potensi tsunami.
Khusus bagi peserta didik usia dini, pelaksanaan simulasi disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan anak, dengan pendampingan langsung dari guru dan tenaga pendidik. Hal ini penting agar pengenalan kesiapsiagaan bencana dapat ditanamkan sejak usia dini melalui pembiasaan yang sederhana, menyenangkan, dan mudah dipahami.

Untuk memastikan kegiatan berjalan sesuai tujuan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh turut menurunkan Tim Monitoring ke sejumlah satuan pendidikan. Tim melakukan pemantauan langsung terhadap kesiapan masing-masing sekolah, keterlibatan warga satuan pendidikan, penerapan prosedur keselamatan, serta ketertiban selama proses evakuasi berlangsung.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh menegaskan bahwa kesiapsiagaan bencana harus menjadi bagian dari budaya dan pembiasaan di lingkungan satuan pendidikan, bukan sekadar kegiatan seremonial untuk memperingati momentum tertentu.

Melalui pelaksanaan rutin setiap 5 November, diharapkan seluruh warga satuan pendidikan semakin memahami tindakan yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi darurat. Latihan yang dilakukan secara berulang diharapkan mampu membentuk refleks keselamatan, meningkatkan kedisiplinan, serta meminimalkan risiko jatuhnya korban jiwa apabila bencana benar-benar terjadi.
Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tragedi tsunami 2004 harus terus diwariskan sebagai pelajaran berharga bagi generasi sekarang dan mendatang. Pengalaman tersebut tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus diterjemahkan menjadi pengetahuan, keterampilan, dan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkungan pendidikan.
Dengan menjadikan simulasi kebencanaan sebagai agenda rutin dalam Kalender Pendidikan, Pemerintah Kota Banda Aceh berharap seluruh satuan pendidikan, mulai dari PAUD, SD hingga SMP, semakin tangguh dan siap menghadapi berbagai ancaman bencana.

Sebab, bencana memang tidak dapat dihindari, tetapi risiko dan dampaknya dapat diminimalkan melalui pengetahuan, latihan, dan kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan bukan sekadar mengetahui adanya ancaman, melainkan kemampuan mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi dan menyelamatkan jiwa.











